Kabar Berita

Menjaga Tradisi Salaf di Era Modern: Visi Besar PP Assholach dalam Memperkokoh Pendidikan Madin dan Kitab Kuning
Jumat, 13 Februari 2026

Momentum wisuda akbar Madrasah Diniyah (Madin) dan TPQ Yanbu’a yang digelar beberapa waktu lalu bukan sekadar seremoni tahunan. Acara tersebut merupakan manifestasi dari visi besar Pondok Pesantren Assholach Kejeron dalam memperkuat pendidikan Madin dan pengajian kitab kuning sebagai napas utama tradisi pesantren salaf.

Di tengah gempuran pendidikan formal, PP Assholach tetap teguh menempatkan pendidikan agama sebagai fondasi utama. Hal ini ditegaskan oleh Ketua Yayasan PP Assholach, Dr. Ahmad Adip Muhdi, M.H.I., yang menyatakan bahwa pesantren harus tetap menjadi benteng pertahanan literasi kitab kuning.

Empat Strategi Penguatan Madin

Untuk memastikan pendidikan Madin memiliki marwah yang sama kuatnya dengan pendidikan formal, PP Assholach menjalankan empat langkah strategis:

Sinkronisasi Kalender Pendidikan: Pesantren mengagendakan libur santri sepenuhnya mengikuti kalender Madin, yakni pada momentum Idul Fitri dan Maulid Nabi. Hal ini dilakukan agar santri dan wali santri memahami bahwa prioritas utama di pesantren adalah mengaji.

Keberlanjutan Jenjang Pendidikan: Yayasan mendorong seluruh santri untuk menuntaskan pendidikan Madin hingga tingkat tertinggi (Ulya). Meskipun santri telah lulus dari sekolah formal (SMA/SMK/MA), mereka diharapkan tetap tinggal di pondok hingga menyelesaikan jenjang Madin-nya.

Hajatan Wisuda Megah: Wisuda Madin diselenggarakan secara besar-besaran, setara dengan kemeriahan wisuda formal. Ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa bangga dalam diri santri atas pencapaian ilmu agama mereka.

Apresiasi Tinggi bagi Wisudawan Ulya: Memberikan penghargaan khusus bagi mereka yang berhasil mencapai titik tertinggi di Madin sebagai bentuk penghormatan terhadap ketekunan mereka mendalami ilmu syariat.

Menuju Pendirian Ma’had Aly

Visi PP Assholach tidak berhenti di tingkat Ulya. Dalam jangka panjang, pesantren telah memproyeksikan pendirian Ma’had Aly. Jenjang ini merupakan institusi pendidikan tinggi pesantren yang statusnya diakui negara setara dengan perguruan tinggi (S1) pada umumnya, namun dengan spesialisasi pendalaman kitab kuning yang lebih spesifik.

“Kami ingin mencetak kader ulama yang mumpuni. Ma’had Aly akan menjadi muara bagi para santri yang ingin mendedikasikan dirinya sebagai ahli tafsir, fiqih, maupun hadis,” ujar Dr. Ahmad Adip Muhdi.

Komitmen Yayasan: Hadiah untuk Penuntut Ilmu

Sebagai bentuk komitmen pribadi, Dr. Ahmad Adip Muhdi secara konsisten memberikan apresiasi langsung kepada santri-santri berprestasi. Pada gelaran wisuda putra kemarin, M. Baihaqi yang menjadi lulusan terbaik tingkat Ulya mendapatkan hadiah sebesar Rp500.000.

Hal serupa juga dilakukan pada Haflah santri putri sebelumnya, di mana lulusan terbaik putri ananda Ayu Andini mendapatkan penghargaan serupa dari Ketua Yayasan.

“Saya secara pribadi akan terus mengapresiasi setiap tetes keringat santri dalam menuntut ilmu tafaqquh fiddin. Prestasi di bidang agama adalah kemuliaan yang melampaui segalanya,” pungkas Ketua Yayasan.

Dengan langkah-langkah strategis ini, PP Assholach membuktikan bahwa pendidikan salaf dan penguasaan kitab kuning tetap relevan dan memiliki kasta tinggi di tengah perkembangan zaman.