Kabar Berita

Melestarikan Tradisi Ilmu: Gus Lutfil Hakim Kupas Tuntas Adab Berpakaian dan Bahaya Khamr dalam Pengajian Irsyadul Ibad
Minggu, 26 April 2026

Pondok Pesantren Assholach Kejeron, Gondangwetan, kembali meneguhkan komitmennya dalam menjaga tradisi keilmuan pesantren melalui agenda rutin Pengajian Ahad Pon. Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (26/04/2026) ini menjadi wadah spiritual bagi para santri, alumni, dan masyarakat luas untuk mendalami literatur klasik Islam.

Bertempat di teras mushola pesantren yang khusyuk, pengajian kali ini membedah Kitab Irsyadul Ibad di bawah bimbingan langsung pengasuh pondok, Gus Lutfil Hakim, M.Pd. Acara dimulai tepat pukul 07.30 WIB, dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh perwakilan alumni yang membawa suasana penuh ketenangan dan kekhidmatan.

Dalam kajiannya, Gus Lutfil Hakim menyoroti perkara yang sering dianggap remeh namun krusial secara hukum syariat, yakni larangan bagi kaum laki-laki dalam memakai sutra dan perhiasan emas maupun perak.

Beliau memberikan penjelasan detail mengenai batasan penggunaan kain campuran. “Jika seseorang memakai pakaian hasil campuran katun dan sutra, maka hukumnya tidak haram apabila persentase katunnya lebih banyak atau setara (50:50). Namun, jika kandungan sutranya lebih dominan, maka hukumnya menjadi haram bagi laki-laki,” jelas beliau secara kontekstual.

Tak hanya soal bahan pakaian, Gus Lutfil juga mengingatkan tentang keharaman bagi laki-laki untuk menyerupai perempuan, baik dalam tingkah laku maupun cara berpakaian.

Sesi yang paling menyita perhatian jamaah adalah saat Gus Lutfil mengutip Hadits riwayat Imam Hakim mengenai ancaman bagi pelanggar syariat. Beliau menegaskan bahwa mereka yang mengenakan sutra atau meminum khomr (minuman keras) di dunia tanpa bertaubat, terancam tidak akan merasakannya kelak di akhirat.

Untuk memberikan pemahaman yang mendalam, beliau mengisahkan narasi besar tentang dua malaikat, Harut dan Marut. Kisah ini menjadi peringatan betapa dahsyatnya efek khomr yang disebut Rasulullah SAW sebagai “Induk dari Segala Maksiat”.

Dikisahkan bahwa Harut dan Marut yang semula kuat imannya, jatuh ke dalam lubang dosa besar—mulai dari berzina hingga membunuh—hanya karena bermula dari meminum khomr yang mereka anggap sebagai dosa paling ringan. “Kisah ini mengajarkan kita bahwa satu kemaksiatan bisa membuka pintu bagi kemaksiatan-kemaksiatan besar lainnya,” tutur Gus Lutfil.

Sesuai dengan tema kegiatan, “Melestarikan Ngaji, Teguhkan Jati Diri”, pengajian ini diharapkan mampu membekali jamaah dengan pemahaman agama yang mendalam agar tidak goyah di tengah perkembangan zaman.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama. Melalui pengajian rutin ini, Pondok Pesantren Assholach berharap ilmu yang disampaikan dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, membawa keberkahan, serta menjadi benteng moral bagi seluruh jamaah dan masyarakat luas.

Bagikan artikel ini ke :