Jamiyah Istighfar Kajian

Sedikit Tak Masalah, Yang Penting Ikhlas dan Berkah
Minggu, 26 Juni 2022

Ahad 26 Juni 2022 di Pondok Pesantren Assholach Kejeron bumi istighfar yang di padati oleh para  jamaah istighfar dan santri PP Assholach Kejeron, dalam meramaikan acara rutinitas istighfaran yang di laksanakan setiap hari Ahad malam Senin wage di Pondok Pesantren Assholach Kejeron.

Nasihat yang di berikan kepada guru kita sekaligus pemimpin istighfar yaitu Gus Lutfil Hakim yang menggantikan posisi beliau al marhum al maghfurlah  KH Ach Muzayyin Zain beliau memberikan nasihat betapa pentingnya mencari keberkahan dan hikmah di balik sebuah keberkahan.

Terdapat sebuah cerita pada suatu ketika Uwais Al Yamanyi seorang kaya raya yng memiliki lima seorang anak dia berpesan kepada semua anak-anaknya agar pada hari tua nanti mereka dapat merawat dirinya, kemudian setelah itu anak-anak beliau bermusyawarah dan anak yang pertama mengusulkan bahwa barang siapa yang merawat ayah mereka nanti akan mendapat warisan yang paling besar

Akan tetapi si anak bungsu berpendapat kalau yang merawat ayah mereka nanti agar tidak akan mendapat harta warisan sama sekali hal tersebut di karnakan akan di anggap ikhlas meawat ayah mereka tanpa ada rasa unsur dunia

Kemudian sang anak bungsu tersebut mengambil keputusan bahwa dirinyalah yang akan merawat ayahnya nanti dengan mengikhlaskan dirinya tidak mendapat warisan nanti. Setelah itu si anak bungsu tersebut merawat ayahnya yang sudah tua dengan tulus sampai sang ayah meninggal dunia

Setelah meninggal dunia sang ayah pun diperlakukan seperti adat di Indonesia yaitu pembacaan tahlil mulai dari hari ke satu sampai ke tujuh kemudian empat puluh harinya

Pada hari ke tiga si anak bungsu di datangi oleh seorang laki-laki yang gagah dan berpakaian putih kemudian menawarkan kepadanya seribu dinar sebagai balasan karna merawat ayahnya. Akan tetapi tidak ada keberkahan pada uang tersebut, sang anak bungsu pun menolak tawaran orang laki-laki tersebut lalu pergilah orang laki-laki yang ditolak tawaran olehnya

Pada hari ke tujuh orang laki-laki itu kembali kepadanya dan menawarkan kembali kepadanya serratus dinar akan tetapi tidak ada keberkahan pada uang tersebut sang anak bungsu menolak kembali tawaran si laki-laki yang datang ke padanya

Kemudian pada hari ke empat puluh setelah kematian ayah beliau laki-laki tersebut datang kembali dengan menawarkan dengan satu dinar kepadanya dengan keberkahan di dalam uang tersebut, maka si anak bungsu mau menerima uang satu dinar yang di berikan oleh laki laki yang mendatanginya

Setelah menerima uang tersebut kemudian ia pergi ke pasar ketika berada di pasar beliau menjumpai seorang yang menjual ikan dan menawarkan ikan itu kepadanya. Kemudian anak bungsu tersebut membeli dua ekor ikan dengan harga satu dinar.

Kemudian pulanglah beliau dengan membawa dua ekor ikan dan memberikannya kepada istri beliau  pada saat membelah perut ikan tersebut sang istri terkejut karena keluar mutiara yang indah dari perut ikan tersebut

Sang istri pun mengadu kepada suaminya yaitu si anak bungsu dari lima bersaudara mereka berkeingnan menjual mutiara tersebut ke pasar setelah kembali kepasar terdapat seorang saudagar yang memberitahunya kalau muiara terseut sangatlah indah dan mahal harganya

Saudagar tersebut menyarankan agar menjualnya kepada seorang raja. Si anak bungsu menuruti saran dari saudagar tersebut. Maka berangkatlah mereka berdua ke kerajaan yang ada di sana, setelah sampai di istana mereka menawarkan mutiara tersebut kepada sang raja

Raja tersbut kaget karena tak pernah melihat mutiara seindah itu dan asalnya pun bukan dari kerang melainkan dari perut ikan akhirnya raja itupun membeli mutiara dari si anak bungsu dengan sepuluh unta yang masing-masing unta membawa dua kantong yang berisi penuh dengan dinar.

Dari kisah tersebut kita dapat mengambil hkmah keberkahan bahwa apabila kita melakukan sesuatu ikhlas karena Alloh maka keberkahan akan ada bersama dengan sesuatu yang kita lakukan tersebut dan dengan keberkahan yang sedikit akan menjadi banyak dan bermanfaat bagi kita

Bagikan artikel ini ke :