Assholach Kejeron – Ahad 13 Februari bertepatan dengan peringatan 1000 hari wafatnya Romo KH. Achmad Muzayyin Zain, Pondok Pesantren Assholach Kejeron Mengadakan Istighfar Kubro yang dihadiri kurang lebih dari 5000 orang yang terdiri seluruh santri, wali santri, alumni serta jamaah rutinan Istighfar.
Dalam peringatan ini semua jamaah yang hadir diajak bersama-sama membaca beberapa kalimat Istighfar dipimpin langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren Assholach Kejeron Gus Luthfil Hakim. Didampingi oleh beberapa ustad yang ada di Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Assholach.
Pada pertengahan pembacaan istighfar bersama tersebut. Gus Luthfi memberikan menceritakan uswah hasanah KH. Muzayyin kepada seluruh jamaah. Salah satunya yang beliau sampaikan adalah terkait akhlak mulia Romo Kyai yaitu dermawan.
Sikap dermawan beliau telah terkenal oleh seluruh orang, tak mungkin orang tidak tahu dengan kedermawanan beliau. Romo Kyai merupakan sosok yang murah senyum. Seseorang akan luluh hatinya menemui dan berjumpa dengan Romo Kyai karena sangat ta’dzimnya Kyai kepada semua orang.
Beliau mengajarkan kepada kita tentang betapa pentingnya berakhlakul karimah kepada semua orang. Beliau sangat tepat sebagai panutan dan teladan dalam belajar akhlak.
Setelah menceritakan sedikit tentang Romo Kyai Muzayyin. Gus Luthfi juga menyampaikan beberapa pelajaran yang dapat kita ambil hikmahnya. Diantaranya bahwa seseorang harus mempunyai guru, seorang guru lah yang mengenalkan kita pada Robb Kita.
Jelas dari kata tersebut apabila seseorang tidak mempunyai seseorang guru atau panutan maka orang tersebut akan tersesat dengan berjalanya waktu.
Saat ini banyak manusia yang belajar dari pemahaman mereka sendiri yang belum tentu benar pada akhirnya. “Dengan mengikuti ulama kita mengetahui jalan menuju surga”, terang Gus Luth.
Para ulama lah yang mengajarkan kita tentang mana yang benar dan salah, mana yang baik dan buruk. Seperti itulah Romo Kiai Muzayyin semala hidupnya hanya untuk mementingkan umat dan menjawab segala persoalah dan permasalahan agar selalu dalam jalan yang baik dan benar.

Setelah selesainya pembacaan Istighfar dilanjutkan mauidhoh hasanah yang disampaikan oleh Habib Abdul Qodir bin Zainal Ba’abud dari Kraksaan Probolinggo. Beliau juga menyampaikan beberapa hal mengenai seorang guru. “Seorang guru itu seperti sopir yang menyetir dan kernet yang menyampaikan kitab-kitab” ungkapnya
Maksunya adalah guru itu menunjukkan jalan kepada kita agar tidak tersesat dalam gelapnya kehidupan dan seorang kernet memberikan dan menyampaikan perilaku dan tingkah laku Rosulullah da Hukum agama yang ditulis dalam kitab-kitab seorang ulama sholeh.
Beliau juga menyampaikan tentang keistimewaan seseorang yang telah dekat dengan guru atau ulama. Ada empat keistimewaan seseornag yang dekat dengan ulama diantaranya dapat mengetahi jalannya akhirat. Mengetahui bagaiman cara beragama dengan baik. Selain itu dengan dekat dengan ulama kita dapat mengetahui sifat belas kasih dan tahu bagaimana caranya mencari hidayah.
Dalam mencari guru atau ulama pun dijelaskan secara lengkap oleh habib dengan tiga kriteria. Guru tersebut harus mempunyai guru, harus mempunyai ilmu yang bersambung hingga Rosulallah serta mengamalkan sunnah Rosulallah SAW
Terkahir dalam mauidhoh hasanah yang disampaikan oleh Habib. Belaiu menjelaskan tentang tujuan seseorang menuntut ilmu di pondok pesantren. Orang yang menuntuk ilmu itu berniat menanamkan warisan Nabi, lalu mengambil warisan Nabi kemudian menyebarkannya dimasyarakat.
Semoga semua santri Pondok Pesantren Assholach dapat menjalankan semua ilmu yang telah disampaikan oleh pengasuh dan guru-guru. Dapat menjalankan dan mengamalkan seperti yang telah diajarkan oleh Sang Penunjuk Jalan “Romo KH. Achmad Muzayyin”.





