Kabar Berita

Biografi Kiai Muzayyin : Sosok Kiai Sederhana, Zuhud, dan Pengayom Umat
Jumat, 19 Mei 2023

Pasuruan merupakan kabupaten dengan jumlah pesantren yang cukup besar di Jawa Timur. Tak heran jika Pasuruan dikenal dengan sebutan kota santri. Ada beberapa pesantren besar yang cukup terkenal dengan ribuan santri yang belajar. Diantaranya PP Sidogiri Kraton (KH. Fuad Noer Hasan), PP Salafiyah Kebonsari Pasuruan (KH. Abdul Hamid), PP Sunniyah Salafiyah Kraton (Habib Taufik bin Abdul Qodir Assegaf), PP Darullughah Waddakwah Bangil (Habib Zainal Abidin bin Hasan Baharul), PP Terpadu Al Yasini Areng-Areng Wonorejo (KH. Ahmad Jufri), PP Daruttaqwah Ngalah Purwosari (KH. M. Soleh Bahrudin), PP Tahfidz Darul Hijrah Prigen Pasuruan

Selain 9 pesantren diatas, masih banyak pesantren yang mengasuh ribuan santri dari berbagai daerah di Indonesia. Salah satunya adalah Pondok Pesantren Assholach, pondok pesantren  yang didirikan pada tahun 1952 oleh KH. Zainuddin, ayahanda Kiai Muzayyin.

Buku ini membahas tentang biografi, kepribadian, keteladanan, karamah, amaliah, dan perjuangannya dalam mendakwahkan islam yang ramah, santun dan mencerahkan semesta. Didalamnya juga dibahas secara ringkas perjalanan hidup KH. Achmad Muzayyin meneruskan memimpin pesantren dan menjadi figur pemimpin yang ramah, bijak, sabar dan akomodatif. Akan sulit bagi warga pesantren dan warga sekitar menemukan pengganti sosok pemimpin sekelas Kiai Muzayyin. Hal itu tidak lepas dari perannya di pondok pesantren dan masyarakat melalui kemampuannya dengan latar belakang ilmu keagamaan yang kuat dan keteladanan akhlak beliau.

Pasca Kiai Zainuddin wafat, Pesantren Assholach dilanjutkan kiai Muzayyin. Pada masa kepemimpinan Kiai Muzayyin didampingi Nyai Hj. Kholilah inilah sistem pengajaran mulai tertib menggunakan sistem klasikal perkelas. Berbekal pengetahuan dan pengalamannya dibeberapa pesantren, keduanya mengelola Pesantren Assholach menjadi pesantren yang tertib baik pengelolaan maupun administrasinya.

Kiai Muzayyin memimpin pesantren dengan serius, profesional, dan visioner. Ia tidak hanya menjadi pengasuh yang duduk manis memerintah dan mendengarkan laporan pengurus saja. Ia turun langsung ke lapangan untuk mengecek fasilitas santri. Bahkan dengan tangan dinginnya, Assholach mendapatkan rusun santri yang megah  dari kementrian PUPR

Berkat keahliannya dalam berbahasa Arab, Kiai Muzayyin pernah menulis surat berbahasa Arab kepada Raja Fadh bin Abdul Aziz Al Saud. Raja Fadh adalah seorang pollitisi Arab Saudi yang menjadi raja dan Perdana Menteri Arab Saudi dari 13 Juni 1982 hingga kematiannya pada tahun 2005. Raja Fadh menerima surat dari Kiai Muzayyin dan Raja Fadh memberikan hadiah mussholla yang dibangun di Komplek Pesantren Assholach, tepat di selatan ndalem Kiai Muzayyin. Ini adalah salah satu upaya Kiai Muzayyin melengkapi sarana dan prasarana sebagai fasilitas santri, halaman, 18

KH. Muzayyin lahir di Pasuruan, tepatnya di Pondok Pesantren Assholach Kejeron desa Bayeman Kec. Gondang Wetan pada tahun 1372 H/1952 M. Beliau dilahirkan dan dibesarkan dilingkungan pesantren kecil asuhan sang ayah dari pasangan KH. Zainuddin dan Ibu Nyai Hj. Mukhayyah. Kiai Muzayyin memulai pendidikan agamanya di Madrasah Pondok Pesantren Daru Mafatihil Ulum (DMU) Podokaton asuhan Kiai Djasim Nur bin KH. Nur Salim. Semasa belajar beliau dikenal sebagai murid yang pendiam, berprestasi dan senang tirakat. Beliau dikenal ahli dalam bahasa Arab, ilmu fikih, ilmu alat, seperti nahwu dan sharraf, serta ilmu-ilmu yang lain serumpun.

Setelah lulus dari Madrasah DMU Podokaton Kiai Muzayyin melanjutkan studinya keberbagai pondok pesantren di Jawa dan luar Jawa. Menurut Gus Ali Fikri putra Kiai Muzayyin, beliau pernah nyantri di 23 pesantren diantaranya Pondok Pesantren Tambakberas Jombang, Pondok Pesantren Al Falah Ploso Mojo Kediri asuhan KH. Dzajuli Usman, Pondok Pesantren Langitan Tuban asuhan KH. Marzuki Wahid dan KH. Abdulloh Faqih Langitan, Pondok Pesantren Lasem Jawa Tengah dan pesantren-pesantren lainnya di Jawa dan Madura

Ning Nur Muzayyanah putri dari Kiai Muzayyin menceritakan kalau abahnya ketika mondok di Lasem pernah didatangi Rasullulloh SAW dalam mimpinya. Tidak semua orang bisa bermimpi bertemu Rasullulloh SAW. Hanya orang tertentu yang didatangi rasul terakhir penutup para utusan tersebut. Salah satu impian terbesar seorang muslim adalah dapat menghadirkan Nabi Muhammad SAW dalam mimpinya.

KH. Achmad Muzayyin adalah pengasuh generasi kedua Pondok Pesantren Assholach Kejeron. Beliau merupakan salah satu ulama Nusantara yang memliki keluasan spiritual, kemuliaan akhlak dan keluasan ilmu. Kemuliaan akhlaknya memancarkan aura kasih sayang kepada selluruh makhluk ciptaan Alloh SWT tanpa memandang baik buruknya manusia yang sowan kepadanya. Semuanya dimuliakan dan dihormati sebagaimana menghormati Sang Penciptanya. Ia adalah pengayom umat sejati yang mengedepankan nilai rahamatan lil ‘alamin, rahmat bagi semesta.

Keluasan ilmunya mencerahkan umat manusia dengan kiprah perjuangannya menyebarkan ilmu, memimpin pesantren, mendidik dan membimbing umat dengan keteladanan, berdakwah dengan memberikan uswah (lisanul hal), santun, sabar, dermawan, pendiam, sederhana, zuhud, wara’,tawadlu dan lemah lembut kepada semua kalangan. “Kiai Sae” pelopor dan penggerak jamiyyah istighfar ini merupakan salah satu intan mutiara terpendam yang dimiliki bumi Nusantara tercinta.   Buku setebal 84 halaman ini wajib dibaca, idealnya dimiliki sekaligus meneladani untuk menjadi inspirasi kehidupan keagamaan dan etika sopan santun yang baik kepada sesama. Jika ingin mengenal lebih dalam Kiai Muzayyin untuk meniru dan meneladani akhlak mulia beliau maka buku ini sebagai salah satu pembukanya.

Bagikan artikel ini ke :