Jamiyah Istighfar

Beramal Sedikit Dapat Derajat Tinggi di Surga, Apa itu?
Minggu, 4 September 2022

Pondok Pesantren Assholach Kejeron kembali menggelar pengajian rutin di halaman pesantren, Ahad 4 September 2022. Dalam pengajian kali ini, majelis tersebut mengangkat tema “Amal yang bisa mendapatkan derajat tinggi di Surga” yang disampaikan oleh Gus Luthfil Hakim selaku pengasuh Pondok Pesantren Assholach Kejeron.

Sejak pukul 19.30 WIB malam, para jamaah sudah mulai berdatangan masuk ke halaman pesantren yang beralamat di Jalan Pesantren Kejeron, Gondangwetan, tersebut.

Di dalam acara itu, para jamaah duduk secara terpisah yang dihalangi oleh hijab yang terbuat dari kain. Jamaah laki-laki berada di depan dan jamaah perempuan berada di belakang. Sekita 2000 jamaah tampak hampir memenuhi halaman tersebut.

Di awal ceramahnya, Gus Lutfi mengatakan, Nabi pernah bersabda bahwa terdapat seseorang yang drajatnya tinggi di surga padahal orang tersebut tidak melakukan apa-apa, kemudian Gus Lutfi menjelaskan bahwa seseorang mendapat drajat tinggi di surga tetapi tidak melakukan apa-apa dikarenakan adanya istighfar anak kepadanya (orang tua anak tersebut). Yang kedua terdapat amal yang mana orang tersebut tidak melakukan apa-apa, tetapi mendapat pahala yaitu kita tidak mengetahui bahwa kita di dzolimi.

Terdapat sebuah cerita pada saat Imam Malik didatangi oleh santrinya, santri itu ingin mengadu kepadanya bahwa ia (Imam Malik) di ghibah oleh seseorang. Yang di lakukan oleh Imam Malik setelah tahu khabar tersebut ialah bertanya kembali kepada santrinya tentang alamat rumahnya dan ingin menemuinya. Bukanya menemuinya untuk memarahinya melainkan memberinya uang kepada orang yang telah menggibah dirinya, dan beliaupun berterimakasih kepadanya.

Belau memberikan uang kepadanya sebagai ganti atas pahala orang tersebut yang di berikan oleh Imam Malik. Jadi seseorang yang telah menggibah orang lain maka pahala si orang yang menggibah itu di berikan kepada orang yang di ghibahi.

Kemudian Gus lutfi bertanya kepada para jama’ah istighfar perempuan, beliau memberikan pilihan seandainya yang mati terlebih dahulu si suami atau si istri, dan banyak jama’ah yang menjawab bersama ;).

Kemudian beliau(Gus Lutfi) mengatakan, kenapa orang-orang banyak yang takut mati? dikarenakan kita tidak tahu setelah kita mati kita akan kemana, dan dengan beristighfarlah kita mengharapkan kepada Alloh agar kita dapat masuk ke surganya Alloh SWT,

beliau juga mengisahkan suatu kisah tentang alasan kita tidak ditunjukkan akhir dari tempat kita nanti. Syeikh Wahid bin Zaid, beliau mempunyai murid yang masih usia remaja dan mau ikut perang dalam pasukannya Syeikh Wahid bin Zaid. Ia menjual harta orang tuanya untuk ikut perang. Pada malam harinya anak tersebut tidur dan mengigau sehingga teman-temannya terbangun, dan tak lama ia pun terbangun setelah mengigau menyebut sebuah nama yaitu Aina’ Mardiya.

Dan gurunya bertanya kepada si murid tadi tentang mimpinya, sang muridpun menceritakan apa yang ia mimpikan kepada gurunya, bahwa dalam mimpinya ia melihat dirinya di sebuah tempat yang indah dan banyak bidadari-bidadari yang cantik. Kemudian ia di suruh mencari nama Aina’ Mardiya. Ia pun bertanya kepada salah satu perempuan yang ada di taman. Perempuan itu menjawab bahwa kita hanya pembantunya Aina’ Mardiya.

Lalu si anak tadi meneruskan pejalanannya dan menemukan taman yang indah dan perempuan-perempuan yang lebih cantik dari pada tadi, Ia menanyakan juga tentang Aina’ Mardiya, sama seperti sebelumnya bahwa mereka hanya pembantunya. Han hal tersebut terjadi berulang-ulang sampai pada gerbang ke tujuh yang terbuat dari intan yang sangat indah. Bertemu penjaga gerbang yang lebih cantik dari pada perempuan yang telah ia temui, ia menanyakan tentang Aina’ Mardiya kepada penjaga gerbang tersebut, penjaga gerbang memberi tahu bahwa Aina’ Mardiya ada di dalamnya.

Setelah itu ia masuk ke dalam gerbang dan melihat perempuan yang sangat cantik, lalu ia bertanya kepadanya “Apakah engkau Aina’ Mardiya?”. Perempuan itu menjawab “Iya saya Aina’ Mardiya”. Langsung si murid tersebut merangkulnya, akan tetapi Aina’ Mardiya tidak mau karena ia belum berhak memilikinya. Kalau ingin memilikinya ia harus mati terlebih dahulu, kemudian si murid tadi terbangun sambil mmanggil nama Aina’ Mardiya.

Pada waktu perang terjadi dengan gigih, murid tersebut menebaskan pedangnya kepada para musuh dan ialah yang paling banyak membunuh para musuh,akan tetapi ia mati terbunuh dan gurunya (Syeikh Wahid bin Zaid) melihat mayatnya dalam keadaan tersenyum.

Bagikan artikel ini ke :