Kajian

Etika Dakwah Dalam Konsep Al-Qur’an
Minggu, 26 Juni 2022

 

 Seiring berkembangnya zaman banyak sekali cara yang diterapkan oleh para ulama dan muballigh untuk memperkenalkan Agama Islam kepada masyarakat umum diantaranya seperti pengajian online, akulturasi dengan budaya di wilayah tersebut  atau sekarang yang sering kita jumpai adalah syair sholawat yang diiringi musik bernafaskan islami oleh penyair kita.

Adapun cara tersebut dilakukan tidak lain untuk menarik minat kepada khalayak umum  agar Agama Islam bisa diterima dengan damai. Karena tidak sedikit orang orang yang bertujuan mengenalkan islam justru melakukan  kesalahan besar dalam berdakwah, sehingga dakwah itu pun justru menjadi Boomerang yang membuat agama Islam semakin jauh dikenal di mata dunia.

Seperti contoh  berceramah dengan menghina dan memperolok olok agama lain, melontarkan kata-kata kasar dan kotor saat berpidato, memberi nasehat nasehat tanpa berlandaskan hadits dan Al qur’an, atau ceramah yang bertemakan radikalisme dengan dasar jihad fisabilillah. Padahal Nabi Muhammad SAW tidak pernah mengajarkan cara syiar dan dakwah yang sedemikian rupa.

Allah SWT telah berfirman dalam Al-Qur’an yang berbunyi  :

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Artinya :

 Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.(Q.S an-Nahl:125)

Dari dalil diatas dapat kita pahami bahwa sebaik baiknya cara berdakwah yaitu dengan cara yang berhikmah dan halus. Maka dari itu, kita sebagai seorang santri haruslah pandai dalam menghadapi lapisan manusia yang bermacam macam karakteristiknya agar islam dapat diterima dengan hati yang tulus . Dan juga dalam berdakwah wajiblah kita  mempunyai sanad dari guru sebagai dasar yang kuat dalam mensyiarkan agama Islam. Karena menurut Habib Abdul Qodir bin Zainal Ba’abud guru itu ibarat sopir yang menunjukkan jalan yang lurus dan benar agar kita tidak tenggelam dalam gelapnya kenistaan dan kesesatan di dunia.

Bagikan artikel ini ke :